Sunday

Mbalelo dan Dableg 3 [Dewan Pelesir]

Mbalelo : bleg, anggota dewan di akhir tahun gini pada seneng studi banding ya?
Dableg : ya mesti gitu lelo, eman lah! dana sisa kalau tidak di manfaatkan
Mbalelo : tapi kok studi banding ya? Apa mereka tidak melihat keadaan bangsa kita yang masih sengsara bahkan mereka pakek ngeles tidak tahu berapa jumlah dana yang di habiskan ckckc
Dableg : orang studi banding itu kan tanda bahwa mereka kumpulan orang-orang bodoh yang tidak bisa mikir, kalau bisa mikir ngak perlu studi banding karena punya otak sendiri. Ya kalau pas zaman Gusdur mereka lagi Tk sekarang pun masih sama!


Bookmark and Share


Mbalelo dan Dableg 2 [Pahlawan Jadi-jadian]

Dableg : lelo, orang-orang pada rame lagi membicarakan gelar pahlawan pak soeharto.
Mbalelo : la terus knapa? Wong pak hartonya nyantai-nyatai aja kok di kuburan, kok malah kamu yang bingung?
Dableg : bukan begitu lelo! Permasalahannya pantas tidak pak harto mendapatkan gelar pahalwan?
Mablelo : ya pantas-pantas saja lah, wong kompeni yang menjajah kita saja di anggap pahlawan ama negaranya sono, Chris Soumokil juga pahlawan bagi pendukung RMS, jadi ya pantas-pantas sajalah kalau pak harto menjadi pahlawan. Mereka kan muridnya!


Bookmark and Share


Mbalelo dan Dableg [Di Tinggal Kekasih]

Mbalelo : Bleg, kau sedih di tinggal Ramadhan a?
Dableg : Tidak e, padahal udah aku paksain untuk sedih, setidaknya pura-pura sedih lah, tapi tetep gak bisa.
Mbalelo : ah, ternyata kita sama-sama jauh dari pintu surga bleg, di tinggal kekasih tapi tak merasa sedih!
Dableg : santai aja Leloo, kan nanti masih bisa hubungan jarak jauh pake chating.!
Mbalelo: O, asu kowe!
28 Ramadhan 1431



Bookmark and Share


Tuesday

Ayat-ayat II

bila ku lihat-lihat, bila ku dengar-dengar :
ingin ku titipkan ayat-ayat padamu tapi engkau meminta darah
bila ku titipkan pada nafsu, nafsu menjadi serakah
lalu kutitipkan pada akal namun akal melunta minta jatah

ah, mending aku bawa lari saja ke rawa-rawa biar berenang menikmati kabut
bila sudah puas ku bawa saja nanti ke sahara, bepelukan dengan mentari
yang jelas tak akan ku biarkan dia menari bila tanpa honor yang pasti

New Cairo, 12 oktober 2010


Bookmark and Share


Ayat-ayat I

aku lihat ayat-ayat menyayat sukma, mengiris debu, tanpa kritis, yang menggebu
aku lihat ayat-ayat mendaki tanpa tahu jejak seribu lagu para petapa nafsu
aku lihat ayat-ayat begitu mudah memlintir leher dan menembak petak-petak kepala

aku dengar ayat-ayat tak lagi kuat bila berburu, kakinya rapuh di mamah debu
aku dengar ayat-ayat menjadi merdu dan berlalu tanpa tahu apa sebenarnya yang di buru
aku dengar ayat-ayat terluka hampir mati karena senjata sendiri

New Cairo 10


Bookmark and Share


Thursday

St. Katherine


Kami berjumpa di mula hari yang masih berbentuk onggok kelam
Saat itu aku sedang dalam perjalanan mendaki pucak Tursina dan dia berlari
Meloncat dari ujung gunung ke ujung yang lain. dalam kelam aku hanya melihat
Geraknya yang serupa nyala api di pindah angin, di susur tari Setan

Di lereng, kutemukan jejak kakinya menyisakan batu membara
Bebatuan yang bercengkrama dengan terlapak kaki pendaki
Menceritakan masa lalu yang dilarutkan senyawa gelap yang pengap

Namun, dia terus melompat cepat mengelabui nafasku yang pecah di ujung busur

Di puncak, masjid dan gereja saling merapal sabda Tuhan atau mungkin
Bangunan berhimpit ini terus berdiskusi dan berbagi peran melakonkan para nabi
Persunting kedamaian dalam sepi bintang yang berhambur di langit.

Kami bermula dari jumpa tanpa tatap muka, tanpa bicara perihal lakon
Atau siapa memerankan apa, tapi Masjid dan Gereja dengan satu serambi ini adalah nyata.

Bhumi A. Sing
St. Katherine, 14 juli 2010



Bookmark and Share


 
template by bhumiasing.blogspot.com